PlastikASI.com

Jual Kantong Plastik Asi

Plastikasi.com

Archive for the ‘Artikel ASI’ Category

ASI Peras, Solusi Buat Ibu Bekerja

Dari: Milis ayahbunda-online

Jadi, Bu, tak ada alasan untuk tak memberi ASI eksklusif pada si kecil. Sangat dianjurkan menyimpan ASI peras di lemari es karena tahan 2 hari dan kualitasnya pun tak berubah.

Sekitar 70 persen ibu di Indonesia bekerja. Ini berarti, banyak ibu yang tak bisa menyusui. Namun bukan berarti si kecil tak bisa mendapatkan ASI sama sekali. Toh, ASI bisa diperas. Dengan begitu, si kecil bisa tetap memperoleh ASI, bahkan ASI eksklusif yaitu hanya ASI tanpa makanan tambahan apa pun hingga si kecil berusia 6 bulan.

Hanya sayang, ASI peras tak bisa menggantikan tindakan menyusui itu sendiri. Seperti diketahui, tindakan menyusui punya banyak pengaruh untuk pertumbuhan mental dan fisik bayi. “Kalau saja semua bayi mendapatkan exclusive breast feeding minimal 4 bulan, saya yakin tak akan ada tawuran seperti sekarang ini. Karena anak-anak yang diberi ASI akan tumbuh menjadi anak yang kepribadiannya baik, lantaran mereka tumbuh dalam keadaan yang dinamakan secure attachment, suatu suasana yang aman, hingga mereka akan mempunyai kepribadian yang baik,” tutur dr. Utami Roesli, SpA, MBA.

Itu sebab, ASI peras hanya dianjurkan bagi bayi-bayi yang ibunya bekerja. “Bila ibu tak bekerja atau si bayi bisa dibawa ke tempat di mana ibunya berada, harus diusahakan breast feeding atau menyusui langsung, bukan ASI peras,” lanjut ketua Lembaga Peningkatan Penggunaan Air Susu Ibu RS Sint. Carolus, Jakarta ini. Jadi, Bu, hanya bila situasi dan kondisinya tak memungkinkan untuk menyusui langsung, barulah si kecil boleh diberi ASI peras/perah. “Ibaratnya, tak ada rotan, akar pun jadi.”

POMPA PISTON

Namun sebelum kita memberikan ASI peras pada si kecil, ada beberapa “aturan” yang penting diperhatikan. Pertama, sebelum si kecil berusia 4 bulan, sebaiknya ASI peras/perah yang diberikan jangan menggunakan dot dulu karena si kecil akan “bingung puting.” Maksudnya, ia akan susah untuk kembali menyusu dengan benar pada payudara ibu. Kedua, bila sudah berada satu atap lagi dengan si kecil, hendaknya ASI peras yang masih ada jangan diberikan lagi, tapi bayi harus menyusu langsung pada ibu. Bukankah tindakan menyusui adalah rotan? Jadi, bila ada rotan, mengapa harus menggunakan akar?

Adapun cara “menabung” ASI peras, yang paling baik dan efektif dengan menggunakan alat pompa ASI elektrik. Hanya saja, harganya relatif mahal. Lagi pula, masih ada cara lain yang lebih terjangkau bila punya dana lebih, yaitu piston atau pompa berbentuk suntikan. Prinsip kerja alat ini memang seperti suntikan, hingga memiliki keunggulan, yaitu setiap jaringan pompa mudah sekali dibersihkan dan tekanannya bisa diatur.

Ironisnya, pompa-pompa yang ada di Indonesia jarang sekali berbentuk suntikan, lebih banyak berbentuk squeeze and bulb. Padahal, harga kedua pompa tersebut relatif sama. Namun bentuk squeeze and bulb tak pernah dianjurkan banyak ahli ASI. Soalnya, pompa seperti ini sulit dibersihkan bagian bulb-nya (bagian belakang yang bentuknya menyerupai bohlam) karena terbuat dari karet hingga tak bisa disterilisasi. Selain itu, tekanannya tak bisa diatur, hingga tak bisa sama/rata.

MEMERAH DENGAN JARI

Tentu saja ada yang lebih murah ketimbang pompa-pompa ASI tadi, yaitu memerah dengan jari. Cara back to nature ini amat sederhana dan tak perlu biaya. Namun agar hasil perahannya memuaskan, kita perlu mengenal sedikit anatomi payudara.

Seperti dijelaskan Utami, payudara terdiri tiga komponen yang prinsipil, yaitu “pabrik” (di daerah berwarna putih), saluran, dan “gudang” (di daerah warna cokelat atau areola) ASI. Ketiganya seperti bejana berhubungan. “ASI diproduksi di ‘pabrik’nya yang berbentuk seperti kumpulan buah anggur. Setiap ‘pabrik’ ASI dilalui otot-otot. Bila otot-otot ini mengkerut, ia akan memompa ASI ke salurannya menuju ‘gudang’. Nah, agar pabrik memproduksi ASI lagi, syarat utamanya ASI di ‘gudang’ harus habis lebih dulu. Bila ‘gudang’ kosong, barulah ‘pabrik’ akan mengisinya kembali, begitu seterusnya,” papar Utami.

Jadi, pada prinsipnya kita harus bisa mengeluarkan ASI yang ada di “gudang”. Caranya, tempatkan tangan kita di salah satu payudara, tepatnya di tepi areola. Posisi ibu jari terletak berlawanan dengan jari telunjuk. Tekan tangan ke arah dada, lalu dengan lembut tekan ibu jari dan telunjuk bersamaan. Pertahankan agar jari tetap di tepi areola, jangan sampai menggeser ke puting. Ulangi secara teratur untuk memulai aliran susu. Putar perlahan jari di sekeliling payudara agar seluruh saluran susu dapat tertekan. Ulangi pada sisi payudara lain, dan jika diperlukan, pijat payudara di antara waktu-waktu pemerasan. Ulangi pada payudara pertama, kemudian lakukan lagi pada payudara kedua. Letakan cangkir bermulut lebar yang sudah disterilkan di bawah payudara yang diperas.

CARA MENYIMPAN

Sebenarnya, tutur Utami, memerah ASI hampir sama dengan mengeluarkan pasta gigi. Bila kita hanya menekan ujung pasta gigi, tentu pastanya tak akan keluar. Jadi, kita harus menekan agak ke belakang. “Bila tak keluar banyak, kemungkinan teknik ibu salah. Mungkin cara memerah susunya seperti melakukan massage payudara. Ini tak akan mengeluarkan ASI, karena yang ditekan pada massage payudara adalah ‘pabrik’ ASI bukan ‘gudang’nya. Kan, kita tak bisa langsung mengeluarkan ASI dari ‘pabrik’ tapi harus melalui ‘gudang’ dulu.” Jadi, bila tekniknya sudah benar, lama-kelamaan memerah ASI akan menjadi pekerjaan biasa. Waktu yang dibutuhkan pun tak sampai setengah jam, tapi susu yang terkumpul bisa mencapi 500 cc, lo.

Setelah diperah, ASI harus di simpan dengan baik agar dapat bertahan lama. Menurut Utami, di udara terbuka, ASI perah bisa tahan 6-8 jam, tapi bila ditaruh di kantong plastik lalu dimasukan termos dan diberi es batu, akan tahan kira-kira 1X 24 jam. Lain lagi bila ASI perah dimasukan di lemari es, bisa tahan 2X24 jam. Sedangkan bila dimasukkan dalam freezer, bisa tahan 3 bulan.

Namun dari semua cara penyimpanan tadi, lebih dianjurkan untuk memasukkan ASI ke dalam termos dan lemari es. “Sudah dibuktikan, lo, ASI perah yang dimasukkan ke termos dan lemari es tak mengalami perubahan komposisi gizi sama sekali. Hanya mungkin warna dan bentuknya saja yang berubah.” Tak demikian halnya jika dimasukkan dalam freezer, “ASI akan mengalami perubahan dalam hal jumlah imunoglobulin, yaitu protein molekul yang berfungsi sebagai daya tahan tubuh, karena ada yang mati akibat kedinginan.”

SUAPI PAKAI SENDOK

Selanjutnya, ketika ingin memberikan ASI perah pada si kecil, kita harus menghangatkannya dulu. Namun jangan dipanaskan di atas api, lo, karena mengakibatkan beberapa enzim penyerapan mati kepanasan. Beberapa buku dari luar menganjurkan untuk menyiram ASI dengan running tap water, tapi di Indonesia, kan, jarang ada keran yang berisi air hangat. Jadi cukup dengan mangkuk yang diisi air hangat (suhu airnya sama dengan suhu air yang biasa kita gunakan untuk mandi atau suhu tubuh). Adapun lama penghangatan tergantung suhu ASI, tapi prinsipnya buatlah suhu ASI seperti suhu tubuh karena akan menyerupai ASI yang dikeluarkan langsung. Nah, setelah selesai bisa langsung diberikan pada bayi.

Namun cara pemberiannya jangan pakai botol susu dan dot, melainkan disuapi pakai sendok. Kalau si kecil langsung menyusu dari botol, lama-lama ia jadi “bingung puting”. Jadi, ia hanya menyusu di ujung puting seperti ketika menyusu dot. Padahal, cara menyusu yang benar adalah seluruh areola ibu masuk ke mulut bayi. Jadi, kalau si kecil sudah “bingung puting”, tak heran bila ia gagal mengeluarkan ASI di “gudang”nya. Salah satu tanda posisi si kecil salah menyusu ialah payudara ibu lecet. Akhirnya, si kecil jadi ogah menyusu langsung dari payudara lantaran ia merasa betapa sulitnya mengeluarkan ASI. Sementara kalau menyusu dari botol, hanya dengan menekan sedikit saja dotnya, susu langsung keluar.

Tak usah cemas si kecil akan kekurangan ASI berapapun jumlah ASI perah yang dikeluarkan. Memang, pada awalnya si kecil akan gelisah dengan jumlah yang mungkin lebih sedikit dari biasanya, tapi bayi akan cepat beradaptasi, kok. “Maksimal pada hari keempat, bayi akan sudah terbiasa. Seberapa pun ASI yang ada, akan diminum. Kalau ditinggali 500 cc, akan diminum; begitu juga 300 cc, bahkan 200c. Namun ketika ibunya datang, ia akan minum habis-habisan. Jadi, bayi tak akan kekurangan ASI. Itu sudah dibuktikan, lo,” tutur Utami.

Nah, Bu, tak ada lagi yang perlu dicemaskan, bukan? Ingat, lo, meski bunda bekerja, si kecil tetap bisa mendapatkan ASI ekslusif!`

Tips Memberi ASI Eksklusif Pasca Cuti

Masa cuti berakhir. Padahal masa pemberian ASI eksklusif pada bayi belum berakhir. Bisakah ASI Eksklusif dilanjutkan? Mia resah. Bayinya baru berusia 3 bulan, masih dalam masa pemberian ASI Eksklusif sampai buah hatinya berusia 6 bulan, namun masa cuti kerjanya sudah berakhir. “Bagaimana melanjutkan ASI eksklusifnya. Masa sih harus dicampur dengan susu formula. Sayang kan?”

Benar! Alangkah sayangnya dan ruginya jika pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif sampai gagal. Pernahkah melihat bayi macan diberi makan daging? Atau, bayi kambing atau sapi, makan rumput? Sebelum usianya cukup, semua bayi mamalia makan air susu, termasuk bayi manusia.

Usia cukup bagi bayi manusia untuk mendapat makanan lain selain air susu ibu adalah setelah 6 bulan. Dari usia 0 hingga 6 bulan bayi harus mendapat ASI eksklusif, yakni pemberian ASI murni tanpa bayi diberi tambahan lain seperti cairan air putih, teh, madu, buah-buahan, maupun makanan tambahan seperti bubur susu atau bubur saring dsb., sampai usia bayi 6 bulan, menurut hasil penelitian, positif membuat bayi mendapat nutrisi terbaik; meningkat daya tahan tubuhnya, meningkat kecerdasannya, dan meningkat jalinan kasih
(bonding) dengan bunda (dan ayah).

Sayangnya, seperti Mia yang bekerja, juga Mia-Mia yang lain, masa cuti melahirkan hanya 3 atau 4 bulan saja. Masih ada ada 2 – 3 bulan lagi untuk memberikan ASI Eksklusif. Itu memang dilema. Bagaimana melanjutkan pemberian ASI eksklusif atau hanya malam hari memberi ASI, siang dengan susu formula?

Beri ASI Perah

Namun, Dr. Utami Roesli SpA, MBA.IBCLC, pakar ASI, meyakinkan bahwa setelah masa cuti berakhir, ibu masih bisa memberikan ASI eksklusif. “Rugi sekali jika ibu hentikan. Sebab, usus bayi usia 3 bulan belum siap mencerna makanan selain air susu ibu. Selain itu. ASI merupakan sumber gizi ideal dengan komposisi seimbang, yang jika diberikan secara eksklusif bayi akan lebih sehat dan lebih cerdas dibanding bayi yang tidak mendapatkannya,” tegas Utami.

Untuk buah hati tercinta, seharusnya bekerja di luar rumah bukanlah halangan untuk memberikan yang terbaik untuknya, termasuk memberikan ASI secara eksklusif. “Ibu tetap bisa memberikan ASI perah, yakni ASI yang diperas dari payudara, lalu diberikan pada bayi saat ibu bekerja di kantor,” ujar Utami yang juga ketua Lembaga Peningkatan dan Pengembangan (LPP) ASI Rumah Sakit St. Carolus.

ASI perah adalah ASI yang diambil dengan cara diperas dari payudara untuk kemudian disimpan dan nantinya diberikan pada bayi. Apa tidak basi? Menurut Utami, sampai waktu tertentu dan dengan penyimpanan yang benar, ASI tidak akan basi. Misalnya, ASI tahan disimpan di dalam suhu ruangan sampai 6 jam. Jika disimpan di thermos yang diberi es batu, bisa tahan hingga 24 jam. Bahkan, kalau disimpan di kulkas ketahanannya meningkat hingga 2 minggu dengan suhu kulkas yang bervariasi. Jika disimpan di frezeer yang tidak terpisah dari kulkas, dan sering dibuka, ASI tahan 3-4 bulan. Sedangkan pada freezer dengan pintu terpisah dari kulkas dan suhu bisa dijaga dengan konstan, maka ketahanan ASI mencapai 6 bulan.

Memerah ASI bukanlah hal yang sulit, bahkan tidak selalu membutuhkan alat khusus atau pompa ASI. Cukup dengan pijitan dua jari sendiri, ASI bisa keluar lancar car! Memang membutuhkan waktu, yakni masing-masing payudara 15 menit. ASI ini bisa diberikan untuk bayi keesokan harinya. Tampung ASI tersebut di sebuah wadah, misalnya plastik gula, lalu tandai setiap wadah dengan spidol sesuai waktu pemerahan, misal plastik pertama, kedua, dst. Berikan pada bayi sesuai urutan pemerahan.

Persiapan dan Pemberian

Untuk memberi bayi ASI perahan, jauh-jauh hari sebelum masa cuti berakhir ibu memang harus menyiapkan diri sendiri dan bayi. Apalagi jika si buah hati merupakan anak pertama. Beratnya meninggalkannya memang luar biasa. Apalagi siang hari tak bersamanya dan tak menyusuinya pasti berat. Di kantor, saat payudara membengkak karena produksi ASI tak disusu bayi, ingatan ibu pastilah pada buah hati di rumah.

Mempersiapkan diri sendiri menjadi penting. Pertama, adalah mempersiapkan mental untuk meninggalkan bayi dan memupuk rasa percaya bahwa ia akan baik-baik saja di rumah. Kedua, persiapan dengan mulai belajar memerah dua minggu sebelum cuti berakhir. Ketika bayi tidur dan payudara mulai terasa membengkak, segera perahlah payudara lalu simpan di kulkas. Esok siang, ASI perah tersebut bisa ibu berikan pada bayi.

Sedangkan untuk mempersiapkan bayi, ibu harus memulai membiasakan bayi diberi ASI perahan dengan sendok, bukan botol susu. “Berikan dengan cara menyuapinya dengan sendok agar bayi tidak bingung putting. Sampai bayi usia 5 bulan, bisa terjadi bingung putting,” tegas Utami. Bingung putting terjadi jika ibu yang biasa memberi Asi lewat payudara, lalu bayi disusui dengan botol, maka ketika akan diberikan lewat payudara lagi bayi kemungkinan menolaknya. Ini lantaran, dot botol lebih lancar mengeluarkan susu dibandingkan lewat payudara.

Persiapkan Mental ‘Pengasuh’

Tetap memberi ASI selama ibu bekerja di kantor berarti ibu harus memupuk kerjasama dengan pengasuh. Ini bukan hal mudah. Apalagi jika yang ibu percayai merawatnya adalah orangtua sendiri atau mertua. Kalau mereka tidak punya pemahaman yang sama tentang pemberian dan manfaat ASI eksklusif, ditambah pengalaman mereka dulu mungkin menyusui sambil dicampur susu atau makanan padat, akan sedikit menyulitkan.

“Tapi, jangan menyerah. Pelan-pelan jelaskan sama ibu atau ibu mertua tentang pentingnya ASI eksklusif, dan bahwa usus bayi belum siap mencerna makanan. Begitu juga jelaskan pada pengasuh, kerjasama orangtua dengan pengasuh di rumah ini juga menentukan keberhasilan menyusui secara eksklusif ” tegas Utami.

Memang di hari-hari pertama pemberian susu perah dengan sendok, bayi mungkin menolaknya. Ia bahkan bisa cemas dan gelisah. Namun, janganlah khawatir, 3 atau 4 hari setelahnya bayi akan terbiasa. Itu sebabnya, sebelum masa cuti berakhir bayi perlu dilatih disuapi susu dengan sendok. Jadi, tak perlu resah jika harus kembali bekerja, bukan?

Pemberian ASI Perahan

  • Ambil ASI berdasarkan waktu pemerahan (yang pertama diperah yang diberikan lebih dahulu).
  • Jika ASI beku, cairkan di bawah air hangat mengalir. Untuk menghangatkan, tuang ASI dalam wadah, tempatkan di atas wadah lain berisi air panas.
  • Kocok dulu sebelum mengetes suhu ASI. Lalu tes dengan cara meneteskan ASI di punggung tangan. Jika terlalu panas, angin-anginkan agar panas turun.
  • Jangan gunakan oven microwave untuk menghangatkan agar zatzat penting ASI tidak larut/hilang.
  • Berikan dengan sendok.

Simpan ASI Praktis dan Awet

  • Taruh ASI dalam kantung plastik polietilen (misl plastik gula); atau wadah plastik untuk makanan atau yang bisa dimasukkan dalam microwave, wadah melamin, gelas, cangkir keramik. Jangan masukkan dalam gelas plastik minuman kemasan maupun plastik styrofoam.
  • Beri tanggal dan jam pada masing-masing wadah.
  • Dinginkan dalam refrigerator (kulkas). Simpan sampai batas waktu yang diijinkan (+ 2 minggu).
  • Jika hendak dibekukan, masukkan dulu dalam refrigerator selama semalam, baru masukkan ke freezer (bagian kulkas untuk membekukan makanan), gunakan sebelum batas maksimal yang diijinkan. (+3-6 bulan)
  • Jika ASI beku akan dicairkan, pindahkan ASI ke refrigerator semalam sebelumnya, esoknya baru cairkan dan hangatkan. Jangan membekukan kembali ASI yang sudah dipindah ke refrigerator.(Dewi Yamina)
    Sumber: Tabloid Ibu & Anak

Peraturan TSA (Transportation Security Administration) mengenai ASI

Ibu menyusui yang bepergian dengan atau tanpa membawa bayi/anak dapat membawa AIR SUSU IBU dalam jumlah berapapun ke dalam kabin pesawat selama ibu menyebutkan (declare) bahwa ibu membawa ASI pada setiap security check-point

TSA download

TSA Item

Penyimpanan ASI

Penyimpanan ASI

ASI perah adalah ASI yang diambil dengan cara diperah dari payudara untuk kemudian disimpan dan nantinya diberikan pada bayi. Apa tidak basi? Sampai waktu tertentu dan dengan penyimpanan yang benar, ASI tidak akan basi.
Misalnya, ASI tahan disimpan di dalam suhu ruangan sampai 6 jam. Jika disimpan di thermos yang diberi es batu, bisa tahan hingga 24 jam. Bahkan, kalau disimpan di kulkas ketahanannya meningkat hingga 2 minggu dengan suhu kulkas yang bervariasi. Jika disimpan di frezeer yang tidak terpisah dari kulkas, dan sering dibuka, ASI tahan 3-4 bulan. Sedangkan pada freezer dengan pintu terpisah dari kulkas dan suhu bisa dijaga dengan konstan, maka ketahanan ASI mencapai 6 bulan.
  1. Taruh ASI dalam kantung plastik polietilen (misl plastik gula); atau wadah plastik untuk makanan atau yang bisa dimasukkan dalam microwave, wadah melamin, gelas, cangkir keramik. Jangan masukkan dalam gelas plastik minuman kemasan maupun plastik styrofoam.
  2. Beri tanggal dan jam pada masing-masing wadah.
  3. Dinginkan dalam refrigerator (kulkas). Simpan sampai batas waktu yang diijinkan (+ 2 minggu).
  4. Jika hendak dibekukan, masukkan dulu dalam refrigerator selama semalam, baru masukkan ke freezer (bagian kulkas untuk membekukan makanan), gunakan sebelum batas maksimal yang diijinkan. (+3-6 bulan)
Mencairkan ASI

Jika ASI beku akan dicairkan, pindahkan ASI ke refrigerator semalam sebelumnya, esoknya baru cairkan dan hangatkan. Jangan membekukan kembali ASI yang sudah dipindah ke refrigerator.

Asi & ibu bekerja

Apabila anda adalah seorang wanita karir yang baru saja melahirkan dan harus segera kembali bekerja karena masa cuti hamil anda telah lewat, anda tidak perlu merasa khawatir karena tidak dapat memberikan ASI kepada buah hati anda.

ASI bisa anda perah dan anda simpan, apakah di lemari pendingin maupun freezer, untuk kemudian nanti diberikan oleh pengasuh buah hati anda ketika anda sedang berada di kantor.

Penelitian telah menunjukkan bahwa ASI yang telah diperah bisa disimpan di dalam suhu ruangan (26,1 ° C) sampai 6 jam (Hamosh 1996) atau pada suhu 18,9-22,2°C sampai 10 jam (Barger and Bull 1987). Karena ASI setiap ibu berlainan dan suhu ruangan seringkali merupakan suatu pengukuran subjektif, maka biasanya dianjurkan untuk menyimpan ASI dalam suhu ruangan tidak lebih dari 4 jam.

Jika ASI belum akan diberikan dalam waktu 4 jam setelah diperah, maka dinginkan ASI di lemari es atau bekukan di freezer sesegera mungkin. ASI di dalam lemari pendingin dengan suhu 0-3,9°C bisa disimpan selama 8 hari (Pardou 1994).

ASI yang dibekukan bisa bertahan sampai 3-6 bulan, tergantung kepada suhu freezer dan frekuensi terbukanya pintu freezer. Deep freezer atau chest freezer mampu memberikan masa beku yang paling panjang karena biasanya memiliki suhu yang lebih rendah dan lebih konsisten. Jangan menyimpan ASI di dalam pintu freezer atau lemari pendingin karena di bagian pintu terjadi variasi suhu yang paling lebar.

Biasanya pilihan terbaik untuk membekukan ASI adalah di dalam botol yang terbuat dari kaca karena komponen ASI di dalam kaca lebih awet/terlindung. Pilihan kedua adalah plastik keras yang jernih. Kebanyakan ibu lebih menyukai botol yang terbuat dari plastik demikian juga halnya dengan rumah sakit/klinik bersalin, karena plastik tidak mudah pecah. Botol tempat menyimpan ASI sebaiknya memiliki tutup yang kencang/rapat.

Menyimpan ASI di dalam kantong susu bisa menimbulkan beberapa masalah. Susu bisa menempel pada sisi kantong sehingga jumlah yang diberikan kepada bayi akan berkurang. Kantong susu juga lebih peka terhadap kontaminasi akibat kebocoran. Beberapa produsen pompa ASI membuat kantong susu yang nyaman untuk digunakan dan terbuat dari plastik yang lebih tebal tetapi harganya mahal. Jika hendak menggunakan kantong, sebaiknya digunakan 2 lapis kantong lalu disimpan di dalam wadah plastik yang tertutup rapat, baru masukkan ke dalam freezer. Hal ini akan membantu mengurangi terjadinya robekan pada kantong. Pada saat menghangatkan, sebaiknya batas atas air tidak melebihi kantong sehingga air tidak masuk ke dalam kantong. Jika air yang digunakan untuk menghangatkan tampak berawan/keruh, berarti telah terjadi kebocoran dan ASI tersebut harus dibuang (Mohrbacher & Stock 1997).

Sebaiknya tidak digunakan botol yang berwarna-warni karena zat warnanya bisa masuk ke dalam ASI.

Berilah label pada setiap kemasan ASI yang mencantumkan tanggal pemerahan ASI dan gunakan terlebih dahulu stok yang terlama. Jika bayi anda dirawat di rumah sakit, pastikan bahwa pada label juga tertera nama anda/bayi anda dengan jelas, sehingga ASI tidak tertukar.

Untuk bayi kurang dari 6 minggu, sebaiknya ASI disimpan dalam botol sebanyak 29,5-59 mL, sehingga waktu yang diperlukan untuk menghangatkan tidak terlalu lama dan ASI tidak banyak terbuang.
Untuk bayi yang lebih besar, jumlah ASI yang disimpan perbotolnya bisa disesuaikan dengan jumlah susu yang biasanya diminum. Tetapi akan lebih baik jika tetap menyimpan ASI dalam jumlah yang lebih kecil, kalau sewaktu-waktu bayi anda menginginkan susu lebih atau untuk selingan.

Belum banyak penelitian mengenai ASI yang telah disimpan, dihangatkan dan baru sebagian diminum oleh bayi. Akan lebih aman untuk memberikan ASI yang sebelumnya telah disimpan dalam waktu 1-2 jam setelah dihangatkan. Dan jika ASI masih tersisa, sebaiknya dibuang dan tidak disimpan lagi.

Buku “Breastfeeding Guide”

You will learn:

  1. The benefits of breastfeeding for baby, mom, dad and society;
  2. Answers to frequently asked questions about breastfeeding
  3. What to do to help get breastfeeding off to a good start;
  4. Why breastfeeding is a public health issue and what is being done to promote and protect it;
  5. Why you should talk to your doctor or health care provider and your child’s pediatrician about breastfeeding;
  6. Where to find breastfeeding help; and
  7. What breastfeeding questions to ask at your next health care or
doctor visit.

Buku ini dapat di download disini

Berhasil Membawa ASI on board

Alhamdulillah, tak henti-hentinya saya mengucap syukur setelah berhasil melewati x-ray terakhir sebelum memasuki badan pesawat. Beberapa waktu yang lalu saya sempat bertanya kiri kanan mengenai bagaimana caranya supaya ASI yang sudah saya perah selama perjalanan bisa lolos masuk cabin dengan cooler tanpa masalah. Kekhawatiran tersebut karena belakangan airlines memberlakukan batasan membawa liquid kedalam cabin.

Sambil duduk tenang didalam pesawat saya mencoba menceritakan kepada para moms siapa tahu suatu saat nanti melakukan travelling dan berencana membawa ASI pulang untuk oleh-oleh si kecil.

1. Sebelum berangkat saya sudah menghubungi tempat tujuan dimana saya nanti akan bekerja, kebetulan saya seorang ibu yang aktif pada satu cabang olahraga, jadi hampir seharian ada dilapangan. Untuk meyakinkan dilokasi pertandingan ada kulkas yang proper tentunya hal tersebut saya konfirmasikan sebelum keberangkatan. Saya juga bertanya apakah ada tempat untuk memerah ASI atau ruang tertutup dan juga air panas.

2. Sebelum berangkat tentunya mempersiapkan beberapa hal seperti:

> cool box yang berukuran cukup, alias nggak kekecilan/kebesaran untuk menyimpan ASI perah selama 3 hari.

> Pompa asi berikut botolnya.

> Karena saya pergi selama 3 hari, nggak mungkin rasanya menyimpan ASI tersebut didalam cup yang biasanya saya lakukan kalau saya memerah ASI dikantor. Alhamdulilah saya menemukan kantong penampung ASI yang oke banget (menurut saya lho). Kantong ASI tersebut cukup tebal bahannya dengan double zip, cukup besar kok ukurannya. Setelah ASI diperah dibotol, saya pindahkan kedalam plastik tersebut dan diseal. Keuntungan dari plastik ini karena bentuknya agak lebar, sewaktu disimpan di freezer bentuknya bisa rata, gak makan tempat.

> Plastik ziplock untuk menjaga agar plastik yang menampung ASI tersebut aman dari segala kotoran. Kita kan nggak tahu kebersihan freezer tempat kita menyimpan ASI nantinya, mendingan cari aman plastiknya didobel. Disamping itu, dengan plastik dobel kita bisa menempelkan label extra. Kalau saya sih saya print label sebelum berangkat dengan tulisan besar-besar BREASTMILK, KEEP FROZEN!

> Tablet untuk sterilisasi alat-alat pompa dan botol. Kan ga mungkin juga travelling bawa-bawa alat steril yang besar. Tapi ingat lho, setelah disteril, cuci ulang pakai air panas hingga benar-benar bersih.

3. Sampai ditujuan, setelah check-in di hotel, saya juga sampaikan kepada bagian front desk bahwa saya akan menitipkan ASI perah didapur mereka. Karena umumnya kamar hotel nggak punya freezer. Makanya label-label dan extra plastik ziplock sangat dibutuhkan.

4. Selelah memerah, saya double plastiknya pakai ziplock, tempel stiker dan tulis nomor kamar. Setiap plastik ASI juga dicantumkan tanggal dan jam kapan kita memerah.

5. Hubungi pihak hotel/antar sendiri ASI tersebut kedapur dah ingatkan kembali untuk menyimpannya di freezer. Duhhh untuk urusan ini saya bawel banget. Setiap menyerahkan ASI selalu bilang, please keep this in your freezer, below zero please… dah mati bosen kali tuh staf dapur diingetin terus.

6. Menjelang pulang ASI tersebut saya masukkan kedalam cooler. Saya sih masukin es batu sedikit trus susun plastik-plastik ASI dan tutup kembali dengan es batu.

7. Selama bertugas, saya menyimpan ASI perah tersebut didua tempat berbeda. Satu dihotel dan satu ditempat pertandingan supaya ASI nggak mondar mandir. Setelah check out dari hotel saya toh harus bertugas dulu dilokasi pertandingan. ASI tersebut saya gabungkan semuanya difreezer sampai menunggu tugas selesai sore hari dan merapikannya kembali ke coolbox dan berangkat ke bandara.

Terus terang, semua itu memang kalo dipikir-pikir merepotkan dan melelahkan. Tapi kalau dijalani gak berasa juga kok, ditambah niat memberikan ASIX kepada anak tercinta yang hampir berusia 3 bulan. Beberapa teman saya terheran-heran dengan semua itu. Diwaktu-waktu break saya selalu menyempatkan memerah, kemudian membersihkan alat-alat pompa dan botol. Walaupun badan secapek apapun saya tetap fokus bahwa Rafa tercinta menunggu ASI mamanya dirumah.

Waktu check in di bandara KLIA, saya bertanya kepada petugas bahwa saya akan membawa ASI on board, apakah diijinkan? Tentunya mereka menanyakan hal-hal standar seperti berapa banyak, sampe 1 liter nggak? Wahhh kalau mau jujur banget sih ya pasti lebih banget dari 1 liter. Tapi pertanyaan tersebut saya jawab dengan cukup diplomatis, “you may check my cooler, I will show you the size of each package”. Dengan pernyataan tersebut mereka toh nggak ngecek juga, dah males kali buka-buka coolbox yang isinya ASI. Saya sih alhamdulilah, nggak mo bohong tapi ga mo juga ASI nya disita karena lebih dari kuota seharusnya. Saya minta staf check in untuk nelpon ke gate dimana saya nanti akan masuk dan menanyakan boleh nggak bawa cooler. Duhhh, saya pikir-pikir saya ini bener-bener bawel dalam segala hal. Tapi mending bawel daripada sok tahulah, jadi saya cuek aja.

Setelah melewati imigrasi, tidak satu pertanyaan pun keluar dari mulut para petugas. Lewat x-ray begitu saja, padahal bawa-bawa coolbox yang ukurannya nggak kecil kan harusnya obvious bawa liquid ya walaupun frozen. Lolos satu gate saya relax sebentar, soalnya deg degan banget. Harus bilang apa ya kalo kantong-kantong ASI tersebut dibongkar dan dicek satu persatu?

Waktunya boarding tiba, nah ini dia yang lebih nakutin. Biasanya petugas-petugas yang ada lebih reseh, ya maklum aja kan dah langsung mau masuk pesawat. Hmmm, saya berharap petugasnya berbaik hati kalau nanti coolboxnya beneran mo dibuka dan dicek. Ehhh, alhamdulilah lolos lho, ga ditanya ini itu. Phewwww…. Legaaaa banget rasanya. Walaupun beberapa moms bilang ga pa apa bawa ASI masuk kedalam pesawat tapi mungkin belum mengalami sendiri jadi deg degannya tetep ada.

Hal ini akan berlangsung dalam beberapa minggu kedepan hingga bulan Agustus karena saya harus bolak balik. Insya Allah diberi kelancaran pada penerbangan berikutnya. Buat para moms yang sudah membantu memberikan saran dan menenangkan hati saya, terima kasih ya. Pengalaman ini nggak terlupakan rasanya, mudah-mudahan sharing ini berguna bagi moms lain.

Titien
(memberikan ASI memang harus niat, jadi apa aja rintangannya bisa dilewati!)

http://theibrahims.blogspot.com

http://taranur.com

Dinas Luar Negeri…?? Tak Masalah..!!

Sisca Baroto-Utomo

Saat itu datang juga. Saat yang paling saya nanti-nantikan selama bekerja. Bertugas ke luar negeri. Tapi, kok rasanya campur aduk ya? Ada excited karena mau melihat Negara yang sudah lama saya impikan, sedih karena akan berpisah dalam waktu yang lama dengan Alle (yang kala itu berusia 18 bulan) dan yang paling dominan adalah bingung, bagaimana nanti saya bisa terus memberikan ASI selama jauh dari Alle?

BUKAN ALASAN UNTUK BERHENTI MENYUSUI

Banyak hal terlintas dalam pikiran saya saat itu, “cukup tidak ya, ASIP ku? Apa iya, dengan kepergian ini Alle harus ditambah susu lain (waktu itu alle belum doyan UHT)? Kira-kira sepulangnya aku nanti, Alle masih mau menyusu langsung, atau tersapih?” dan lain-lain yang menciutkan ke-PeDe-an saya.

Tapiii… setelah memikirkan kembali seluruh kebaikan dan manfaat ASI, kok ya sayang banget kalo kita menyerah dan patah semangat. Apalagi setelah membaca berbagai macam referensi tentang pengalaman ibu menyusui yang bepergian jauh dan tidak menyerah untuk terus memberikan ASI buat buah hatinya walaupun harus terpisah jauh. Saya jadi terinspirasi dan berpikir, kalau orang lain aja bisa, saya juga PASTI BISA. Asal yakin dan niat. Itu kuncinya…

SEBELUM BERANGKAT..

PERTAMA: SIAPKAN DIRI..

Begitu mandat itu datang, hal pertama yang saya lakukan adalah mengejar ketertinggalan stock ASIP saya dan mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang travelling ke luar negeri sambil membawa ASIP di dalam kabin. Mengingat perjalanan saya ini cukup jauh dan lama (trans-Atlantik ke benua Amerika), saya harus punya ‘sangu’ informasi yang cukup untuk menyimpan dan membawa kembali ASIP saya dengan selamat sampai di rumah..
Mengejar ketertinggalan stok ASIP merupakan hal yang cukup ‘challenging’ buat saya. Kala itu usia Alle 18 bulan dan ‘cadangan’ ASIP saya per hari maksimal 300ml. Untuk meninggalkan Alle sekian hari, saya harus segera berhitung untuk mencukupi kebutuhan ASIP Alle ketika saya jauh darinya.

Dengan 300 ml ASIP, konsumsi ASI Alle tercukupi dari jam 7 pagi sampai jam 9 malam ketika saya bertemu dengannya lagi di rumah. Untuk itu, jika dalam 24 jam Alle tidak bertemu saya, saya harus menyediakan 400 ml – 500 ml ASIP untuk cadangan jika malam hari Alle terbangun dan ingin minum ASI.

Mengingat tugas ini akan menempuh waktu 10 hari (4 hari perjalanan pulang-pergi dan 6 hari bertugas), dan kebutuhan ASI Alle yang 500 ml sehari, mulailah saya mengatur strategi untuk mengejar kekurangan stok ASIP saya di kulkas. Kebetulan saat itu saya masih memiliki 5 cadangan ASIP @ 120ml. Nah, karena kebutuhannya akan berjumlah 10 hari x 500 ml = 5 Liter ASI, maka saya harus dapat memperbanyak stok ASI saya 8 kali lipat.

WAhh.. stress juga saya. Secara di kantor hanya berhasil memerah 3x, itu saja tidak selalu dapat 120 ml, kadang hanya 80–90 ml. Tapi saya tidak patah arang dan coba atur strategi dengan cara makan makanan yang dipercaya memperbanyak ASI (favorit saya air rebusan kacang hijau dan sayur papaya juga buah papaya-nya), memperbanyak waktu memerah dari 3x menjadi 5x dalam sehari, dan PERCAYA DIRI kalau ASIP saya akan cukup selama pergi. Ternyata strategi yang saya tempuh membuahkan hasil. Puji Tuhan, 1 hari sebelum keberangkatan kulkas saya sudah penuh dengan ASIP sesuai dengan kebutuhan Alle.

KEDUA: CARI INFORMASI SEBANYAK MUNGKIN

Tenang masalah ASI perah, masih bingung masalah BAWA ASI PERAH KEMBALI KE INDONESIA.

Peraturan penerbangan yang MELARANG MEMBAWA CAIRAN LEBIH DARI 100 ML KE DALAM KABIN adalah momok utama ketakutan saya. Teringat lagi, bahwa Negara yang akan saya kunjungi begitu ketatnya menerapkan peraturan ini.

Tapi saya tak habis semangat. Tanya teman-teman yang pernah bepergian ke luar negeri sambil membawa ASIP, telpon maskapai penerbangan yang akan saya gunakan, danbrowsing informasi sebanyak-banyaknya di internet. Walau sedikit menguras tenaga, tapi pencarian itu tak sia-sia.

Saya bertemu dengan web resmi milik Transportation Security Administration (TSA)United States of America. Lembaga inilah yang pertama kali mengeluarkan peraturan yang melarang untuk membawa cairan lebih dari 100 ml ke dalam kabin setelah peristiwa WTC 9/11 terjadi.

Puji Tuhan, di bulan Oktober 2006 mereka merevisi peraturan tersebut menjadi lebih BERSAHABAT bagi ibu-ibu menyusui yang bepergian dengan, atau tanpa anak. Kalau boleh saya kutip, salah satu pasal dari peraturan tersebut berbunyi sebagai berikut:

… ibu menyusui yang bepergian dengan atau tanpa membawa bayi/anak dapat membawa AIR SUSU IBU dalam jumlah berapapun ke dalam kabin pesawat selama ibu menyebutkan (declare) bahwa ibu membawa ASI pada setiap security check-point.
(Sumber: http://www.tsa.gov/travelers/airtravel/children/formula.shtm)

Hal berikutnya yang saya lakukan adalah mencari informasi di hotel tempat saya menginap, apakah saya bisa mendapatkan kamar dengan refrigerator yang memilikifreezer untuk menyimpan ASIP. Untung saja, hotel yang saya tempati bentuknya seperti studio apartemen, sehingga kulkas dengan freezer memang disediakan di masing-masing kamar. Pfffiiiuuuhhh…. ?

Suatu kelegaan yang luar biasa buat saya setelah berhasil mendapatkan seluruh informasi yang saya perlukan. Saya semakin mantap dan PeDe untuk berjuang membawa oleh-oleh ASIP dari luar negeri untuk Alle tercinta.

KETIGA: SIAPKAN SEMUA DOKUMEN PENDUKUNG

Selain Paspor, Visa dan tiket, dokumen-dokumen yang harus disiapkan untuk memperlancar membawa ASIP selama di perjalanan adalah:

  1. Copy/Print dari peraturan TSA (in case petugas di security check point tidak mengetahui tentang peraturan ini, buat jaga2 saja)
  2. Surat Keterangan Dokter yang menyatakan bahwa kita adalah ibu menyusui yang bepergian

Selain itu, kita harus jujur dan menyebutkan semua barang bawaan kita (terutama ASIP) jika melalui security check point.

KEEMPAT: SIAPKAN ANAK

Setelah tiga hal diatas berhasil diatasi, akhirnya saya bertemu juga dengan fase yang paling berat: MENYIAPKAN ANAK.

Sejak satu bulan sebelum keberangkatan, saya sudah sering menyinggung-nyinggung soal kepergian saya pada Alle. Misalnya saja pada saat ia bermain, dengan mengajaknya mengobrol:

Saya (S): Mas, bulan depan mami kerja di kantor yang jauh loohhhh..
Alle (A): Cuma melirik, terus sibuk dengan mainannya lagi
S : Mas Alle manis ya, sama papi, utita (eyang putri), kungkungka (eyang kakung) dan hayus (pengasuhnya)
A : senyum aja, terus minta ‘cucuacimami’ alias nenen.. hehe..

Di waktu lain, saat ia tertidur nyenyak, saya coba bisikkan hal yang sama padanya. Bahwa saya akan pergi ke kantor yang jauh untuk tugas dalam waktu yang lama. Alle manis ya.. Mimik ‘cucuacimami’ sama utita dan kungkungka.. Nanti kalau mami pulang, mas Alle boleh mimik ‘cucuacimami’ langsung lagi.

Begitu terus berulang-ulang. Pokoknya setiap ada kesempatan, saya selalu informasikan pada Alle tentang kepergian saya.

Jangan lupa, sertakan juga Ayah dalam fase ini. Suami yang mendukung, pasti akan membuat kita tenang. Ia akan menjadi figure pengganti kita disaat kita jauh dari rumah, jadi, sertakan juga pada saat kita memberikan informasi kepergian kita.

Satu hal lagi, selain menginformasikan hal-hal tersebut, sebelum berangkat saya juga sengaja membawa baju Alle yang dipakai semalam selama bepergian. Saya juga meninggalkan salah satu baju saya yang sudah dipakai untuk digunakan sebagai selimut Alle di malam hari. Kata orang-orang tua zaman dahulu, bau tubuh ibu (walaupun secara fisik jauh) akan membuat anak tetap nyaman. Sebaliknya, bau tubuh anak akan membuat ibunya pun nyaman. Believe it or not, it works for me. ?

KELIMA: YAKINKAN DIRI KITA, BAHWA SEMUA AKAN AMAN DAN TERKENDALI

Ini juga fase yang sulit buat saya. Karena terbiasa mengurus semuanya sendiri, terutama hal-hal yang berkaitan dengan keperluan Alle, saya tidak mudah percaya dengan orang lain, even itu suami saya sendiri.

Tapii… kita harus bisa percaya, apalagi dengan kasus seperti yang saya alami – harus pergi jauh dari rumah dalam jangka waktu yang relatif lama. Salah satu cara mengatasi kecemasan saya akan hal ini adalah saya membuat list semua keperluan Alle, dari menu makan tiap hari, jam memberikan ASIP di malam hari (karena kalau siang relative sudah oke, karena rutin), penanganan pertama apa yang harus dilakukan kalau Alle tiba-tiba panas/batuk/pilek, dan hal-hal lainnya.

List ini saya berikan pada orang tua saya (yang setiap hari kami titipi Alle) serta suami saya. In case sesuatu yang sangat emergency, mereka bisa menghubungi saya via telp hotel/hp (yang sengaja saya aktifkan saluran internasional-nya).

KEENAM, SIAPKAN PERALATAN ‘PERANG’

Peralatan perang yang saya maksud disini bukan untuk perang beneran loh, tapi lebih ke peralatan memerah ASI. Peralatan PerangKarena saya nyaman memerah dengan menggunakan tangan, maka peralatan yang saya siapkan antara lain sebagai berikut:

  • 1 (satu) buah cooler bag ukuran besar (bentuknya kebetulan seperti ransel, sehingga mudah dibawa)
  • 3 (tiga) buah ice gel dan 4 (empat) buah ice packs. (catatan: ice gel tahan 12-18 jam, ice packs tahan sekitar 8 jam)
  • 25 (dua puluh lima) buah plastik ASI
  • 2 (dua) buah Tupperware ukuran besar (untuk menyimpan plastic ASI di kulkas/cooler bag)
  • 3 (tiga) buah botol ASI dan tablet cold sterilizer

DALAM PERJALANAN

Akhirnya, tiba juga hari yang ditunggu. Hari dimana saya akan berangkat meninggalkan rumah dan Alle tercinta saya. Walau sudah dengan berbagai persiapan sebelum berangkat, tetap saja berurai air mata ketika melihat Alle melambaikan tangan pada saya. Alle-nya sih, oke-oke saja. Tapi ternyata saya yang lebih tidak siap berpisah dengannya.

Sambil terus menenangkan hati, saya mulai atur strategi pemerahan di dalam perjalanan. Kebetulan kota tujuan akhir saya adalah San Diego, California. Untuk sampai kesana, saya harus transit 3 kali dan 3 kali pula berganti pesawat. Transit di Singapura memakan waktu 6 jam, di Tokyo 45 menit dan di Seattle 45 menit. Dengan demikian saya dapat memerah 2 kali di Singapura, 1 kali di Tokyo dan 1 kali di Seattle.

Sesampainya di Singapura, rencana saya tidak berjalan dengan mulus. Karena harus mencari tempat untuk check in dahulu (kebetulan dengan noraknya saya sedikit tersesat di Changi.. hehe..) dan confirm transit lounge, jadilah saya hanya memerah 1x. Waktu itu ASI yang diperoleh 100ml (masih aman di bawa ke kabin), jadi saya tidak perlu men-declare apapun ketika boarding menuju Tokyo Jepang.

Perjalanan ke Tokyo menempuh waktu 7 jam perjalanan dan sialnya, saya tidak bisa memerah karena tidak ada tempat yang nyaman. Jadi saya putuskan untuk memerah di Tokyo. Sesampainya di Tokyo, sialnya lagi, saya juga tidak bisa memerah, karena waktu pemeriksaan di security check point terlalu lama, sehingga saya harus langsung boarding menuju Seattle. Payudara sudah mulai sedikit bengkak dan sakit. Akhirnya saya putuskan untuk memerah sedikit di toilet, tapi tidak sampai mengosongkan payudara. Yang penting tidak menyebabkan payudara bengkak (breast engorgement).

Perjalanan dari Tokyo ke Seattle menempuh waktu 8 jam. Saya cukup ‘teler’ di perjalanan, sehingga tidak juga memerah. Sesampainya di Seattle, setelah melalui pemeriksaan di Imigrasi dan melakukan ‘custom clearance’ saya harus langsung pergi ke San Diego, tanpa (lagi-lagi) sempat memerah. Perjalanan dari Seattle ke San Diego menempuh waktu 3 jam. Pada saat itu, Payudara sudah terasa sangat sakit, muncul benjolan-benjolan kecil, yang menandakan ASI sudah sangat banyak, tapi juga tidak dikeluarkan.

Ternyata, apa yang saya khawatirkan benar-benar terjadi. Sesampainya di hotel di San Diego, saya cek payudara saya dan ternyata benar, sudah keras alias bengkak. Mulai lah sesi kompres panas-dingin, pijat dan perah. Puji Tuhan, semua benjolan hilang semua. Hari itu, saya memerah banyak sekali, hampir 350 ml ASI sekali perah.

SAAT MENJALANKAN TUGAS

Kebetulan tugas yang dimandatkan pada saya selama berada di luar negeri adalah mengikuti konferensi manajemen serta melakukan benchmarking implementasimanagement tools di sana.

Setelah mengecek agenda acara selama di sana, saya atur strategi untuk memerah lagi. Ternyata, melakukan sesi perah seperti di kantor dapat dilakukan. Jadi aman, saya bisa memerah 3x di tempat kerja selama berada di San Diego.

Kebetulan sekali, San Diego sangat mendukung ibu untuk memberikan ASI. Di tempat konferensi dan tempat kerja terdapat nursery room dengan fasilitas yang baik, sehingga sesi perah memerah dapat dilalui dengan menyenangkan.

Untuk menyimpan ASI perah saya selama bekerja, cooler bag tercinta selalu saya bawa, termasuk ice packs dan ice gels nya.

SAAT KEMBALI KE TANAH AIR

Dalam 6 hari, tugas saya selesai. Berarti saatnya kembali ke rumah. Tak terasa, 20 plastik ASI bisa saya kumpulkan, masing-masing isinya 125 ml.

Itu berarti, saya harus atur kembali strategi untuk membawa ASIP kembali ke Indonesia, mengingat bawaan likuid saya sudah melebihi kuota yang ditentukan dan waktu transit yang harus saya lalui.

Untuk membawa ASIP kembali ke Indonesia, saya sengaja membeli beberapa ice-packslagi untuk memastikan ASIP tetap dalam kondisi dingin. Karena saya akan melalui waktu 24 jam selama perjalanan, saya perlu memastikan bahwa seluruh ice packs dan ice gelsaya akan cukup dingin sampai Jakarta.

Sengaja saya bekukan 10 kantong ASIP hasil perahan awal perjalanan dan 10 kantong ASIP lagi saya biarkan dingin (alias berada di kulkas bawah). Tujuannya adalah supaya 10 ASIP beku dapat langsung dikonsumsi Alle sesampainya di Jakarta, dan 10 lagi yang masih cair dapat saya bekukan ketika sampai di Jakarta.

Karena sudah dapat membaca situasi di dalam perjalanan, pengaturan strategi saya kali ini terasa lebih ringan dan mudah untuk dijalankan. Untuk itu saya memutuskan untuk memerah 1x sebelum berangkat ke airport, 1x ketika transit di Seattle, 1x ketika transit di Tokyo dan 2x ketika transit di Singapore. Modalnya, saya harus disiplin dan on-time pada saat memerah. Saya tidak mau mengulangi kesalahan pertama saya ketika berangkat, yang mengakibatkan saya terkena mastitis ringan.

Puji Tuhan, seluruh strategi perah saya berhasil dilalui dengan baik. Selama perjalanan panjang dan transit, saya dapat mengumpulkan 5 kantong ASIP lagi yang isinya masing-masing 150 ml.

Hal terakhir yang saya lakukan sebelum boarding menuju pesawat yang membawa saya ke Jakarta adalah menelpon suami saya untuk membawakan cool box penuh dengan es batu (karena persediaan ice gels dan ice packs saya bawa semua) untuk memindahkan ASIP bawaan saya ke cool box tersebut.

KEMENANGAN YANG BERBUAH MANIS

Setelah melalui perjalanan panjang yang melelahkan, akhirnya sampai juga saya di rumah. Begitu melihat Alle berjingkrak gembira melihat saya pulang, rasanya seluruh lelah dan letih saya menguap begitu saja.

Saya begitu rindu mendekap, memeluk dan menciuminya. Begitu melihat matanya, saya tahu bahwa ia pun merindukan saya. Yang membuat saya begitu terharu melihatnya adalah saya berhasil berjuang membawa oleh-oleh ASIP untuknya.

ASIP saya pun, Puji Tuhan, semua berada dalam kondisi yang baik. ASIP beku yang telah mencair segera dikonsumsi oleh Alle, sementara ASIP dingin yang cair segera saya bekukan di freezer.

Dalam perjalanan kali ini, saya merasa benar-benar MENANG, karena semua hal yang saya perjuangkan berbuah manis.

AKHIRNYA..

Sharing yang panjang ini sebetulnya bertujuan untuk memotivasi seluruh ibu menyusui, terutama mereka yang bekerja dan seringkali dihadapkan pada tugas-tugas kantor di luar kota/luar negeri untuk terus berjuang memberikan ASI.

Jangan ada kata menyerah dalam perjuangan mu, moms. Karena di garis finish nanti, kita juga yang akan memetik manisnya buah perjuangan kita.

ASI Rocks!

Menyimpan ASI Dalam Botol Susu

Tanya: Bolehkah menyimpan ASI dalam botol susu yang ditutup dengan penutup botol susu?
Jawab: Air Susu Ibu (ASI) perlu disimpan dalam wadah tertutup sehingga aroma atau kuman dari lingkungan tidak mencemari ASI. Apa yang Anda lakukan masih boleh, tapi lebih baik dalam wadah khusus untuk menyimpan ASI. Urutan bahan wadah penyimpan ASI dari yang terbaik sampai pilihan terakhir adalah dari bahan kaca, stainless steel, dan plastik.

Tanya: Bolehkah menyimpan ASI dalam botol susu yang ditutup dengan penutup botol susu?
Jawab: Air Susu Ibu (ASI) perlu disimpan dalam wadah tertutup sehingga aroma atau kuman dari lingkungan tidak mencemari ASI. Apa yang Anda lakukan masih boleh, tapi lebih baik dalam wadah khusus untuk menyimpan ASI. Urutan bahan wadah penyimpan ASI dari yang terbaik sampai pilihan terakhir adalah dari bahan kaca, stainless steel, dan plastik.

Tempat Penyimpanan ASI (Air Susu Ibu) Botol Kaca/Plastik ASI Khusus

Bagi orang tua (ayah dan ibu) yang punya bayi yang ingin menyimpan atau menabung air susu ibu alias asi sebaiknya gunakan botol kaca atau plastik dengan risleting/zipper khusus yang aman untuk menyimpan asi untuk diletakkan di freezer kulkas/lemari es agar bayi kita tidak mengalami gangguan pencernaan atau masalah kesehatan lainnya.

Untuk membeli plastik khusus asi / air susu ibu dapat dibeli di toko-toko perlengkapan bayi yang lengkap. Hindari membeli plastik obat yang dijual di tempat toko plastik jika kita tidak yakin aman untuk anak kita.

Menabung ASI di dalam freezer lemari es sangat berguna tatkala kita krisis atau kekurangan asi dalam payudara ibu. Berfungsi juga ketika sang ibunda bekerja dan telah habis masa cuti hamil maka asi yang berhasil ditabung selama libur cuti hamil bulanan bisa digunakan untuk mengasi bayi kita setelah dipanaskan terlebih dahulu botol yang awet membeku tadi dan disesuaikan suhunya agar bayi mau minum asi yang diawetkan tadi. ASI yang disimpan dalam kebekuan kulkas bisa bertahan/tahan kurang lebih tiga bulan lamanya. Selamat mencoba!